Mritil Bawang di Lahan Subur Cerita dari Nganjuk, Jawa Timur

 

Mritil Bawang di Lahan Subur Cerita dari Nganjuk, Jawa Timur


Mentari belum terlalu tinggi saat bel sekolah berbunyi. Danu langsung berlari kecil keluar kelas, tidak seperti biasanya yang santai mengobrol dengan teman-temannya. Ia harus segera pulang karena hari ini adalah hari panen bawang di ladang belakang rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang, Danu berpapasan dengan Rini dan Samsul yang juga bergegas mengayuh sepeda. Mereka bertiga sama-sama anak petani bawang di Desa Sukomoro, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, daerah yang terkenal sebagai salah satu sentra bawang merah terbesar di Jawa Timur.

 

Setelah sampai di rumah, Danu melepas seragam sekolahnya, mengambil nasi bungkus yang sudah disiapkan ibu di meja dapur, lalu langsung melesat ke belakang rumah. Di sana terbentang hamparan ladang bawang merah yang luas dengan daun-daun hijau runcing yang bergoyang lembut ditiup angin dari Gunung Wilis. Udara siang itu terasa panas, tetapi Danu sudah terbiasa. Ia segera bergabung dengan ibu dan beberapa tetangga yang sudah duduk di bawah tenda darurat dari terpal bekas. Di hadapan mereka, menggunung bawang merah hasil panen pagi tadi yang masih lengkap dengan daun hijaunya yang panjang. Inilah saatnya mereka melakukan tradisi yang disebut "mritil", yaitu memisahkan umbi bawang dari daunnya dengan tangan.

 

Tangan Danu mulai bergerak lincah memegang pangkal bawang, lalu dengan putaran cepat, daun terlepas dari umbinya. Plok! Bawang merah bulat menggelinding ke keranjang kiri sementara daun hijaunya ia kumpulkan di kanan. Gerakannya belum secepat Rini yang duduk di sampingnya. Rini sudah mahir karena setiap sore sepulang sekolah ia selalu membantu ibunya mritil. Gerakan tangannya seperti menari, ibu jari dan telunjuknya menjepit pangkal bawang, pergelangan tangannya memutar cepat ke kanan, dan plok! Bawang terpisah rapi tanpa cacat sedikit pun. Danu memperhatikan dan mulai meniru. Ia ingin bisa secepat Rini agar dapat ikat bawang lebih banyak. Setiap ikat yang mereka hasilkan akan dihitung dan dibayar oleh pemilik ladang, Bu Lurah, yang memang tetangga mereka sendiri.

 

Sore mulai merambat ketika tumpukan bawang di hadapan mereka mulai menipis. Keranjang di kiri sudah penuh sesak dengan umbi bawang merah yang siap dijual ke pasar. Daun-daun di kanan juga menggunung, nantinya akan diolah menjadi pupuk kompos untuk ladang berikutnya. Bu Lurah berjalan mendekat sambil tersenyum bangga melihat semangat anak-anak desa itu. "Wah, Danu dapat lima belas ikat, Rini delapan belas ikat, Samsul tiga belas ikat. Ini upah kalian," ucapnya sambil mengeluarkan uang dari dompet kecil. Danu menerima uang lima belas ribu rupiah dengan mata berbinar. Rini mendapat delapan belas ribu, sementara Samsul tiga belas ribu. Uang itu bukan jumlah besar, tetapi bagi mereka, ini adalah hasil keringat sendiri yang terasa sangat berarti. Danu sudah menghitung-hitung dalam hati, uang ini akan ditabung untuk membeli sepatu baru yang sudah bolong. Rini ingin membeli novel anak-anak dari perpustakaan keliling yang datang setiap hari Minggu. Samsul hanya tersenyum, ia akan memberikan seluruhnya kepada ibunya untuk membantu membeli kebutuhan sehari-hari.

 

Di tengah perjalanan pulang menyusuri pematang sawah, angin sore membawa aroma khas bawang yang sedikit menyengat namun akrab di hidung mereka. "Kok kalian semangat banget sih mritil?" tanya Samsul sambil tertawa. Danu mengedikkan bahu, "Daripada main HP terus, lumayan buat nabung." Rini menimpali, "Iya, lagian kita jadi belajar mandiri. Nggak harus minta uang terus sama orang tua." Mereka bertiga tertawa bersama, tiga anak desa dengan tiga mimpi berbeda tetapi satu kesamaan: mereka sudah belajar arti kemandirian sejak kecil. Malam harinya, usai salat Magrib, Danu duduk di teras bersama ayahnya yang baru pulang dari ladang. "Bah, kenapa sih kita harus mritil? Kenapa nggak langsung jual bawang sama daunnya sekalian?" tanyanya polos. Ayahnya tersenyum sambil mengisap rokok kreteknya perlahan, menjelaskan bahwa daun bawang harus dilepas agar umbinya tahan lama dan tidak cepat busuk. Daunnya pun tidak sia-sia karena bisa dijadikan pupuk. Dari satu bawang, mereka mendapat dua berkah sekaligus.

 

Keesokan harinya di sekolah, Bu Guru masuk kelas dengan senyum lebar. "Anak-anak, hari ini kita belajar tentang ekonomi keluarga. Siapa yang punya pengalaman membantu orang tua dapat uang sendiri?" Hampir semua tangan di kelas terangkat. Danu, Rini, Samsul, dan teman-teman lain bercerita tentang mritil bawang sepulang sekolah, tentang uang jajan hasil keringat sendiri, tentang mimpi-mimpi kecil yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit. Bu Guru tersenyum bangga, "Kalian anak-anak hebat. Kalian sudah belajar lebih awal tentang arti kerja keras dan kemandirian. Ingat, tidak ada yang instan di dunia ini. Bawang merah Nganjuk kita terkenal sampai ke luar Jawa karena petani kita telaten. Karena kalian juga telaten mritil." Danu merasa dadanya menghangat mendengar pujian itu. Ia sadar bahwa di tangannya yang kecil ini, ada peran besar dalam tradisi besar desanya. Pulang sekolah, Danu kembali ke ladang bersama Rini dan Samsul. Di bawah tenda darurat, di tengah terik matahari Nganjuk, mereka duduk melingkar kembali. Tangan-tangan mungil itu bergerak lincah, mritil... mritil... plok! Bawang-bawang itu berguguran, terpisah dari daunnya. Angin sore berembus membawa aroma bawang ke segenap penjuru desa. Dan di bawah langit Nganjuk yang luas, tradisi mritil terus berlanjut dari generasi ke generasi, dari hati ke hati, mengajarkan bahwa kemandirian dan kerja keras adalah kunci meraih mimpi.


Komentar