Supra Ayah Bukti Lelah
Karya: Nur Aini
Setiap pagi, sebelum suara ayam benar-benar hilang ditelan suara kendaraan, aku selalu mendengar suara yang sama. “Brum…Brumm…”, suara mesin tua dari depan rumah. Supra merah milik ayah.
Catnya sudah tidak semerah dulu. Beberapa bagian bodinya mulai kusam, spion sebelah kiri retak, dan joknya pernah robek sebelum akhirnya ditambal dengan lakban hitam. Ayah sangat mencintai motor tua itu, selalu dielus dan dibersihkan dengan sepenuh hati olehnya. Motor itu sudah menemaninya bertahun-tahun, bahkan sebelum aku lahir di dunia ini.
Dulu aku menganggapnya sebagai motor tua yang seharusnya diganti. “Kenapa nggak beli baru, Yah?” tanyaku sambil melihat ayah yang sedang memperbaiki motornya. “Masih bisa jalan” jawab ayah singkat. Aku tidak pernah benar-benar memahami jawaban itu. Sampai akhirnya aku sadar, mungkin yang dimaksud ayah bukan hanya supra.
Ayah bekerja sebagai buruh pabrik, setiap pagi ia berangkat sebelum aku terbangun dan pulang ketika langit sudah petang. Supra merah itu selalu membawanya pergi, dan membawanya pulang kembali.
Aku sering melihat ayah pulang dengan pakaian penuh debu. Tangannya kasar, wajahnya kusam, dan langkahnya yang semakin lambat. Ibu memberinya segelas kopi dan bertanya “Bagaimana kerjanya hari ini? Capek?”. “Biasa” jawaban yang selalu di lontarkan ayah dengan senyum tipisnya.
Pagi itu hujan turun deras. Ibu sudah menyuruh Ayah menunggu sampai reda, tetapi Ayah hanya mengenakan jas hujan tipis.
“Kalau terlambat, nanti dipotong”
Aku melihatnya dari balik jendela. Ayah menyalakan supra berkali-kali, mesinnya sempat mati.
Sekali
Dua kali
Tiga kali
Akhirnya ayah turun, membuka bagian samping motor, lalu memeriksa sesuatu dengan tanyannya. Aku melihat ayah mengusap wajahnya, entah itu air hujan atau keringat yang bercampur di sana. Setelah beberapa menit, mesin kembali menyala.
“Brum…Brum…”
“Alhamdulillah” ucap ayah sambil tersenyum tipis “Aku berangkat dulu ya.”
“Hati-hati dijalan” saut ibu.
Ibu membalikkan badan sambil menghela nafas.
Malam sudah hampir pukul sebelas, aku mendengar suara yang tidak asing lagi di telinga, suara motor ayah. Tapi, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Aku keluar dan beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi untuk ayah.
Ayah turun dari motor dengan langkah perlahan. Celananya basah, bajunya masih mengenakan seragam kerja, dan wajahnya terlihat pucat.
“Kenapa, Yah?”
“Motor mogok tadi”
“Terus?”
“Didorong sampai bengkel”
Ayah tertawa kecil seolah itu bukan masalah. Aku memperhatikan tangannya, ada bekas kotoran hitam di telapak tangannya.
“Terus Ayah?”
“Ya pulang”
Aku ingin bertanya lebih banyak, tapi ayah terlihat sangat lelah. Aku memberikan kopi buatanku, ayah duduk dan menikmatinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku memperhatikan supra tersebut. Motor itu bukan hanya tua, ia juga lelah. Dan anehnya, aku merasa keduanya sama.
Hari-hari berikutnya semakin sulit
Pabrik tempat Ayah bekerja mengurangi jam kerja. Pendapatan berkurang, sementara kebutuhan rumah tidak pernah ikut berkurang.
Aku sedang membutuhkan uang untuk membayar kuliah.
Aku tahu keadaan rumah sedang tidak baik, tetapi aku tetap menyampaikan kabar itu kepada Ayah.
Ia tidak banyak bicara.
Malam itu aku melihat Ayah duduk di teras. Di sampingnya ada Supra merah yang telah menemani hidupnya bertahun-tahun.
Di atas meja terdapat beberapa lembar uang dan kertas tagihan.
Ayah menghitungnya berkali-kali.
Kemudian berhenti.
Ia memasukkan uang itu ke dalam amplop.
Aku tidak tahu berapa yang tersisa untuk dirinya.
Beberapa hari kemudian, Supra kembali bermasalah.
Ayah membawanya ke bengkel sebelum berangkat kerja. Aku ikut karena kebetulan tidak ada kuliah.
Montir mengatakan beberapa bagian harus diperbaiki.
Ayah terdiam cukup lama.
Tangannya merogoh saku.
Ia menghitung uang yang ada.
Lalu memilih memperbaiki bagian yang paling penting saja.
Sisanya nanti.
Lagi-lagi nanti.
Aku mulai membenci kata itu.
Bukan karena Ayah sering mengucapkannya.
Tetapi karena aku mulai tahu apa yang selalu disembunyikan di baliknya.
Puncaknya terjadi suatu malam.
Ayah pulang lebih awal.
Ia mematikan mesin Supra, tetapi tidak langsung turun.
Aku melihatnya duduk di atas motor dalam keadaan diam.
Helm masih terpasang.
Kedua tangannya menggenggam stang.
Beberapa menit berlalu.
Kemudian ia melepas helm dan mengusap wajahnya.
Aku menghampiri.
“Capek, Yah?”
Ayah tidak segera menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia tidak mengatakan “biasa”.
Ia hanya menghela napas panjang.
“Sedikit.”
Hanya satu kata.
Namun rasanya lebih berat daripada semua keluhan yang pernah kudengar.
Aku melihat wajahnya.
Ayah tidak menangis.
Tidak mengeluh.
Tidak marah.
Ia hanya terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu sendirian.
Saat itu aku mengerti.
Ayah bukan tidak kuat.
Ia hanya lelah.
Dan Supra merah di bawah tubuhnya menjadi saksi paling setia dari lelah yang selama ini tidak pernah ia ceritakan.
Sejak hari itu, aku mulai menabung.
Sedikit demi sedikit.
Aku tidak mengatakan apa-apa kepada Ayah.
Aku hanya ingin memberinya sesuatu yang selama ini selalu ia tunda untuk dirinya sendiri.
Beberapa bulan kemudian, aku mengajak Ayah ke sebuah dealer.
Ia terlihat bingung ketika melihat sebuah motor baru di hadapannya.
Aku menyerahkan kuncinya.
“Buat Ayah.”
Ayah menatapku cukup lama.
Ia tidak langsung menerimanya.
Matanya justru beralih ke tanganku, kemudian ke motor baru itu.
Aku tahu ia ingin menolak.
Tetapi kali ini aku tidak memberinya kesempatan untuk berkata “nanti”.
Akhirnya ia menerima kunci tersebut.
Senyumnya kecil.
Namun cukup untuk membuatku tahu bahwa ada beban yang sedikit terangkat dari pundaknya.
Keesokan paginya, suara mesin yang berbeda terdengar dari halaman.
Bukan Supra.
Motor baru itu membawa Ayah berangkat kerja.
Aku berdiri di teras sampai ia menghilang di ujung jalan.
Namun Supra merah tetap berada di samping rumah.
Tidak dijual.
Tidak dibuang.
Aku membersihkannya setiap akhir pekan.
Sesekali Ayah juga masih menaikinya, sekadar berkeliling atau pergi ke warung dekat rumah.
Suatu sore, aku melihat Ayah duduk di atas Supra sambil membersihkan spionnya yang retak.
Ia tersenyum sendiri.
Aku baru memahami alasan sebenarnya mengapa Ayah tidak pernah mau menjualnya.
Supra itu bukan sekadar kendaraan tua.
Di sanalah ia pernah membawa harapan.
Di sanalah ia pernah pulang dalam keadaan basah kuyup.
Di sanalah ia pernah berhenti sebentar ketika tubuhnya tidak lagi sanggup berpura-pura kuat.
Dan di sanalah bertahun-tahun lelahnya menjadi saksi.
Kini Ayah memiliki kendaraan baru.
Tetapi Supra tetap tinggal.
Sebab kendaraan baru mungkin bisa menggantikan perjalanan.
Namun tidak akan pernah bisa menggantikan kenangan.
Setiap pagi, aku masih mendengar suara mesin dari halaman.
Kini ada dua suara.
Satu membawa Ayah menuju hari yang baru.
Satu lagi diam di sudut rumah, menyimpan perjalanan yang lama.
Dan setiap kali melihat Supra merah itu, aku selalu teringat satu hal:
Ayah bukan lemah.
Ayah hanya lelah.
Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun menjadi orang yang selalu menguatkan semua orang, Ayah memiliki satu kendaraan baru untuk membantunya berjalan lebih jauh, sementara Supra lamanya tetap tinggal sebagai saksi bahwa ia pernah berjalan sejauh itu.
Komentar
Posting Komentar